Pages

Showing posts with label Inspirasi By Anthony DM. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi By Anthony DM. Show all posts

Sekretaris




Seorang sekretaris dari seorang pebisnis terkaya di kota. Setiap harinya sekretaris ini mendamping bossnya ketemu dan bicara dengan banyak orang terkenal. Ia mendengar­kan, mencatat serta mengikuti semua pembicaraan bisnis atasannya.

Suatu hari temannya mengatakan, “Wah, pasti kamu bisa pintar, hebat juga kaya raya sekali kalau ikut-ikutan membuat dan belajar menginvestasikan dengan apa yang dibicarakan oleh atasanmu itu”.

Si sekretaris hanya berkata ringan, “Wah, saya tidak terlalu memikirkannya. Saya hanya mendengar dan mencatat apa yang mereka bicarakan”.

Itulah masalahnya!
Banyak orang yang bekerja hanya dengan ototnya, tetapi tidak dengan otaknya. Lagipula, hati dan jiwanya pun tidak ada di dalam pekerjaan itu.

Dan si sekretaris ini, sebenarnya mewakili banyak jiwa di dalam organisasi yang hanya kerja dengan otot tetapi bu­kan dengan otaknya.

Anda tahu problem terbesar di dalam organisasi?
Jawabannya, “Para pekerja yang tidak berpikir dan para pemikir yang tidak bekerja”. 

Kisah Si Kancil




Seorang anak kecil begitu bergembira saat dibawa ke kebun binatang. Sebentar lagi ia bisa melihat binatang yang sering­kali diceritakan dalam dongeng.

Tidak sabar lagi, ia akan ketemu binatang cerdik yang bisa mengalahkan singa, buaya serta gajah.

Anak ini mulai membayangkan akan melihat seekor binatang yang pastilah penampilannya hebat.

Tetapi, sampai di kandang kancil, betapa kecewanya si anak.
Kancil itu... tampak biasa-biasa, tidak tampak cerdas bahkan tampak lebih buruk dari rusa.

Si anak kecil itupun menangis kecewa, “Mama. Kok kancilnya begitu. Nggak mau kancil yang begitu, Mama!”
Mamanya kebingungan.

Nah, betul kan? Kadang, kita hanya ingin melihat apa yang pikirkan dan kita harapkan. Saat realita tidak sesuai dengan pikiran kita, yang harus disesuaikan adalah pikiran kita, bukan memaksa realitas kita yang menyesuaikan.

Sayangnya, banyak diantara kita frustrasi setengah mati karena selama ini terus memaksakan dunia serta orang - orang disekelilingnya untuk menyesuaikan dengan dirinya.
“Jauh lebih mudah kita mengenakan sepatu, daripada me­maksakan karpet merah di semua tanah yang kita pijaki!”

Rayap buku, Cicak dan tikus




Tiga binatang bertemu.
Pertama, rayap buku yang tiap hari memakan buku-buku di suatu perpustakaan.

Seekor cecak yang tinggal di sekolah serta seekor tikus yang tinggal di rumah ibadat.

Ketiganya bertemu dan saling ngobrol.
Rayap buku: “Aku tinggal di antara tumpukan buku dan makan buku, kok nggak pintar - pintar ya?”.

Cecak: “Aku juga. Saya tiap hari mendengarkan guru yang mengajar. Kenapa aku juga tidak pintar ya?”.

Tikus menanggapi, “Aku juga punya masalah. Aku tinggal di rumah ibadat. Tapi tetap saja aku tidak menjadi hewan yang suci”.

Pengetahuan, kebijaksanaan serta pencerahan dimulai dari dalam kita, bukan dari luar.

Tempat, teman, lingkungan tidak akan otomatis membuat Anda lebih baik, kalau tidak ada KEMAUAN dari dalam

Planner dan Atlit




Seorang wirausahawan muda berkata lesu kepada seorang pelatih olah raga.
“Apa masalahmu?”, tanya si pelatih.
“Saya selalu antusias bikin rencana. Sampai-sampai bisa menghabiskan waktu berhari-hari.”
“Saya desain rencana saya dengan software terbaik dan saya habiskan waktu untuk membuat business plan terbaik. Sampai saya betul - betul puas.”
“Tapi selanjutnya, sering terjadi, saya pun jadi tidak lagi pu­nya semangat untuk merealisasikannya. Saya lalu memimpi­kan lagi rencana bisnis yang lain.”

Si pelatih yang menyimak dengan serius dari tadi lalu ber­kata, “Saya tak tahu soal bisnis. Tapi bagi atlit saya, saya sarankan jangan habiskan waktu untuk pemanasan (warm up)-nya.”

“Pertandingan yang sesungguhnya ada di lapangan. Kalau tidak, mereka kehabisan tenaga sebelum bertanding. Saya kok merasa, Anda mirip seperti atlit yang kehabisan tenaga sebelum memulai pertandingan.”

Janganlah terkecoh. Banyak orang yang senang dengan planning dan ide-ide. Tetapi, planning tetaplah hanya se­buah pemanasan. Planning bukanlah eksekusi. Planning ti­dak membawa kita kemana-mana. Planning hanyalah pema­nasan bagi eksekusi Anda. Setelah planning, Anda harus segera bertindak. Itulah yang membedakan orang yang hidupnya sukses dan gagal. Orang gagal, banyak yang ha­nya sesumbar dengan rencana dan ide-idenya, tetapi tidak pernah merealisasikannya.

Pengumpul Buku




Seorang eksekutif terkenal. Hobinya kolektor pengetahuan. Semua buku dibeli dan dikumpulkan. Totalnya tiga per­pustakaan pribadi. 

Ia selalu bangga. Kalau ada orang membicarakan buku, ia selalu berkata dengan bangganya, “Aku sudah punya buku­nya!”

Hingga hari tuanya, bukunya semakin menggudang. Tapi, si eksekutif ini sebenarnya tidak semakin cerdas. Hingga mati, buku - bukunya tetap di perpusatakaannya. Masih banyak yang tersegel dan belum pernah terbaca.
Ia hanya menambah buku, tetapi tidak menambah penge­tahuannya. Kerakusan ternyata bukan hanya dalam materi, tetapi juga pengetahuan.

Ingat lho ya...
Banyak yang menjadi kolektor pengetahuan, tetapi tidak pernah mencerna pengetahuan yang ia kumpulkan.

Kasihan sekali!
(Ngomong-ngomong, kisah di atas adalah kisah nyata. Ha­nya saja, si eksekutif ini belum meninggal dan masih terus berpikir, suatu ketika ia akan punya waktu untuk membaca apa yang ia kumpulkan. Kapan? Entahlah. Ia masih sibuk mengumpulkan...!)

Si tukang mimpi dan tukang main games




Seorang pemuda bertemu dengan seorang bapak tua yang hobinya tidur. Pemuda itu kesal. Kerjaan si bapak tua ini tidur melulu.
“Memangnya tidak ada hal yang lebih baik. Kok tidur melulu.
Apa sih gunanya?”, tanya pemuda itu. Tahu bahwa pemuda itu hobinya main game. Si bapak tua itu pun bertanya balik, “Lalu, kamu main game gunanya apa?”
“Lho itu khan hiburan, saya bisa mencatat skor kemenangan disitu” “Lalu skornya?” “Ya, disimpan saja. Hanya untuk hobi saja”.
“Lalu apa bedanya kamu dengan saya”, kata si bapak tua. “Kamu pun bersenang - senang dan berimajinasi dengan gamemu. Dan saya menikmati tidur dan mimpiku”.
“Ketika semuanya berakhir, semuanya hanya mimpi. Tidak ada bedanya kamu dengan saya, bukan?”

Bangunlah dari segala khayalanmu.
Segala sesuatu yang mengkhayal - khayal, memang begitu menggoda. Dan nyatanya, ada banyak orang yang meng­habiskan waktunya dengan berkhayal. Ayo, bangun! 

“Sebuah batu yang ditaruh, adalah jauh lebih baik daripada bangunan yang hanya dalam impian”.

Melawan Kodrat, menghabiskan Waktu



Seekor kepiting besar ditertawakan ikan karena jalannya yang miring.
Karena angkuh dan menginginkan segala sesuatunya tam­pak hebat, maka kepiting itupun berlatih dengan keras. Ia malu karena ejekan itu dan mencoba jalan yang lurus. 

Berbulan-bulan ia berlatih.
Akhirnya sampai beberapa kakinya patah, ia pun tidak peduli. Suatu hari, datanglah seorang nelayan yang mencari ikan, ia melihat beberapa kepiting dan berusaha mengejar.

Beberapa temannya bisa lari dengan cepat dan selamat, tinggallah si kepiting besar yang terseret - seret ini.
Akhirnya, ia pun ditangkap dan dimakan oleh si nelayan.

Sebenarnya semangat kepiting ini sudah luar biasa, tapi sayang dihabiskan untuk melawan kodratnya yang sia - sia.

Karena itu pastikan, pada saat kita melakukan sesuatu den­gan usaha dan tekad yang luar biasa, apakah kita sedang melakukan hal konyol yang sebenarnya melawan kodrat kita.

Sebenarnya, jauh lebih baik kita habiskan waktu kita dengan menerima diri apa adanya, serta mengembangkan hal - hal yang memang layak kita kembangkan. Jangan membuang - buang waktu untuk hal yang sebenarnya tinggal Anda teri­ma dan berdamai. Dan fokuskanlah usaha pada hal yang lebih meninggikan level kehidupan Anda!

Melebihi Kapasitas




Seorang anak memutuskan suatu cara cepat untuk belajar. Ia akan mengurung dirinya selama sebulan di kamar untuk belajar. Setelah itu, ia akan punya waktu banyak untuk ber­senang - senang dan bermain saja, sepanjang tahun.

Sebelum ia melakukan niatnya, ibunya yang bijaksana me­nasihati.
“Nak, makanlah semua nasi untuk seminggu ini dalam sehari, sehingga ibu tak perlu lagi masak selama seminggu. Jadi, ibu cuma perlu masak sehari. Akan mengurangi beban ibu”.
Anak itupun tersadar dan belajar.

Kita tidak bisa memaksakan segala sesuatu secara instan, semuanya dalam waktu sekejab. Apalagi untuk sesuatu yang membutuhkan proses.

Sayangnya, kita berada di antara generasi yang ingin ser­ba instan. Instan menjadi terkenal, instan menjadi manager, instan menjadi kaya raya, instan sukses. Bukannya tidak mungkin hal tersebut diraih. Tetapi, hasilnya menjadi tidak wajar, tidak normal, tidak sehat dan terkadang juga tidak langgeng.

Saya menemukan banyak orang yang tidak sabar menunggu suatu proses malah berakhir dimana ia harus membayar dengan waktu yang justru lebih panjang. Bersabarlah dan berdisiplinlah untuk suatu proses, karena ketika waktunya tiba hasilnya juga lebih solid.

Ratapi yang belum diketahui




Seorang pemuda malas sekali belajar. “Buat apa? Sudah cukup koq. Belajar, tak ada gunanya!”
Suatu hari, ia bertemu seorang petani sukses. Pertanian­nya subur, hasilnya banyak. Bahkan ia terkenal mencang­kok juga membuat perkawinan silang antar tanaman yang menghasilkan berbagai tanaman baru yang menarik. “Me­mangnya bisa begitu?”, tanya pemuda itu. “Tentu saja asal kamu tahu rahasianya”.

Ketika waktu berlalu. Pemuda itu ternyata hidupnya miskin. Suatu hari ia bertemu lagi, seorang saudagar yang kaya. Ia pun bertanya bagaimana ia bisa menjadi kaya seperti dirinya.
Tentu saja bisa, asal tahu bagaimana caranya”.

Yang paling menyedihkan adalah orang yang tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu. Tetapi dengan bangganya, mereka merasa dirinya sudah tahu. Tak sadar, mereka sedang me­nipu dirinya sendiri. Merekapun menutup diri dari proses belajar.

Banyak pula yang gagal, yang tidak sukses, lantas mereka bertanya mengapa kondisinya bisa lebih buruk dari yang lain. Mereka bingung, tetapi mereka tidak tahu bahwa salah satu sebabnya adalah karena mereka tidak tahu ‘mengapa’­nya.

Ketika ada seorang yang berhasil dan gagal, pasti ada ‘pengetahuan’ yang membedakan mereka. Seorang yang ga­gal mestilah bertanya, ‘apa yang dia ketahui yang aku tidak miliki’. Hampir segala sesuatu itu memungkinkan, asal kita tahu caranya. Jadi, ratapi.... Bukan atas apa yang telah kita ketahui tetapi ratapi apa yang belum kita ketahui!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...